Aku pernah jatuh cinta. Dulu.
Dia adalah orang yang sangat special yang pernah aku miliki.
Hatiku selalu berdetak tak karuan saat dia berada di dekatku. Telapak tanganku
banjir dengan keringat dingin. Bibirku kelu dan aku tidak tahu harus memulai
percakapan apa dengan dia. Aku selalu salah tingkah dan tampil bodoh di
depannya.
Kami pernah menjalin cinta. Hubungan kami tak bertahan lama.
Aku tidak tahu,apakah akunya saja yang terlalu bodoh untuk dipermainkan dan
dijadikan pelarian semata.
Dia lah yang memulai dan mengakhiri hubungan kami. Dia mengakhiri
dimana saat aku sedang menyatakan bahwa aku sangat menyayanginya. Ya itu betul,
aku sudah terlanjur sangat menyayangi dirinya. Tapi apa kenyataan yang ia balas? Tak
usah kuberi tahu,aku yakin kalian sudah mengetahui jawabannya.
Aku mencoba menahan sesak yang ada di dadaku. Kutarik nafasku
dalam-dalam. Kutahan air mataku agar aku terlihat tetap kuat meskipun
nyatanya,tidak.
Aku tidak mau hubungan kami berakhir. Aku butuh alasan yang
jelas.
Dan bodohnya diriku yang telah menanyakan alasan mengapa
dirinya mengakhiri hubungan kami.
‘Kamu tidak asik’
Aku tersenyum pahit melihat kalimat itu, meski hanya berupa
tiga kata tapi ntah kenapa itu membuat hatiku remuk.
Jadi, perempuan yang ‘asik’ yang kau maksud itu seperti apa?
Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di dalam otakku.
Kenapa kau tidak bilang bahwa kau hanya bosan dengan diriku?
Kurasa itu lebih baik dari pada dengan tiga buah kata sebelumnya.
Seiring bertambah dewasanya diriku, aku mengerti bagaimana
perempuan yang kau maksudkan. Tak usah ku jelaskan karena aku buruk dalam
menjelaskan sesuatu.
Aku menerima segala kekurangamu. Ya aku hanya menerimanya kalau itu dirimu.
Aku bahagia
di saat kau tersenyum dan tertawa. Aku sedih disaat kau terluka.
Aku sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan lelaki
lain. Kalau ditanya apakah aku cinta dengan lelaki lain itu, aku akan menjawab
iya. Tetapi,kau tahu, rasa cintaku kepadanya tak bisa dibandingkan dengan rasa
cintaku kepadamu.
Bodoh.
Ya itu aku. Sudah tahu kalau dia tak akan lagi melirik
diriku ataupun menjalin hubungan lagi denganku tetapi mengapa aku masih
mencintainya?
Melihat kau bersama wanita lain, berjalan berdua di depan
mataku, aku bisa apa? Selain berpura-pura tak melihatnya.
Karma? Apakah itu ada? Kalaupun ada aku berdoa kalau kau
tidak akan mendapatkannya karena telah menyakiti diriku, karena aku tahu,
akulah yang salah telah bodoh mencintai seseorang yang jelas-jelas tak
pernah menganggapku sebagai perempuan. Dan kau, bukanlah seorang yang jahat. Karena kalian tahu, kalau mataku ini telah
dibutakan oleh cinta.










